10 April 2010

Salome: Ibu yang Menginginkan Anak-Anaknya (Yakobus Dan Yohanes) Menjadi Orang-Orang Terdekat Yesus

Posted by SiOliv
Ibu Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, hidup pada zaman Yesus. Anak-anaknya satu generasi dengan Tuhan kita. Ketiganya menjadi pengikut Yesus. Malahan, ibu ini adalah salah satu dari perempuan-perempuan yang mencukupi keperluan Tuhan kita. Namanya adalah Salome (Matius 27:56; Markus 15:40-41; Markus 16:1). Injil Tuhan tentang kerajaan surga sangat mengesankan Salome, begitu pula anak-anaknya. Seperti hampir semua orang, ia tengah menunggu-nunggu kedatangan Mesias, Raja Penyelamat, untuk membebaskan tanah yang sekarang disebut Palestina dari kekuasaan Romawi.

Walaupun latar belakang Yesus hanyalah seorang tukang kayu, Salome menaruh percaya pada Dia. Suatu hari, pada tahun ketiga penginjilan-Nya, Yesus berjalan ke Yerusalem bersama para pengikut-Nya. Dan ketika berada di sana, untuk kedua kalinya Ia menubuatkan kematian-Nya (Markus 10:32-34). Menangkap kesempatan, bersama anak-anaknya ibu ini mendekati Tuhan. Ia berlutut di hadapan Yesus dan mengajukan permohonan khusus. Katanya, "Berilah perintah, supaya kedua anakku ini boleh duduk kelak di dalam kerajaan-Mu, yang seorang di sebelah kanan-Mu dan yang seorang lagi di sebelah kiri-Mu." (Matius 20:21)

Salome memunyai iman yang besar. Walaupun Yesus sama sekali tidak memperlihatkan kerajaan yang Ia bicarakan, ia sudah melihat cukup banyak mukjizat untuk mengetahui bahwa tak ada yang mustahil bagi Yesus. Segala yang dikatakan Sang Guru pastilah benar. Ketika Yesus memulai pemerintahan-Nya, ibu ini tahu bahwa ia menginginkan anak-anaknya menjadi orang-orang terdekat-Nya. Sebagaimana Yakobus dan Yohanes sendiri, ia ingin agar mereka duduk tepat di sebelah Sang Raja sehingga mereka bisa "mendapat bagian dalam kemuliaan dan kekuasaan Kristus dan menjadi yang terbesar dalam kerajaan Tuhan".

Yesus mengingatkan mereka pada kenyataan. Lagipula, kerajaan Yesus bukanlah seperti kerajaan dunia. Ia bertanya kepada ibu dan anak, apakah mereka tahu apa yang mereka minta. Dan Ia membetulkan gagasan salah kaprah mereka tentang kebesaran (Matius 20:22-28; Markus 10:38-45). Meskipun demikian, iman Salome tidak tergoyahkan. Ia mempertahankan imannya dan tetap menjadi pengikut setia. Seorang perempuan yang kurang beriman pasti sudah berpaling dari Tuhan. Tetapi ibu ini bukanlah orang yang tidak mengenal Kitab Suci -- yang kita sebut Perjanjian Lama. Ia adalah seorang murid Firman. Dan jauh sebelum bertemu dengan Anak Allah, Salome sudah mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa, dan pikirannya.

Kasih ini menular pada anak-anaknya. Yohanes adalah contoh yang sempurna. Ia adalah murid Yohanes Pembaptis sebelum Yesus memulai penginjilan-Nya. Yohanes Pembaptis bukanlah penginjil yang sembarangan, yang tinggal di padang gurun. Suatu hari, ketika Yesus berada di sekitar tempat Yohanes Pembaptis sedang membaptis, Yohanes dan temannya berinisiatif untuk mengikuti Yesus ke tempat Ia tinggal dan melewatkan hari itu bersama-Nya (Yohanes 1:35-39). Beberapa bulan kemudian, Yesus datang ke tempat asal Yohanes. Begitu Tuhan memanggil dia dan kakaknya Yakobus untuk mengikuti-Nya, mereka langsung meninggalkan segalanya dan pergi mengikuti Dia (Matius 4:21-22; Markus 1:19-20).

Yakobus dan Yohanes mengasihi Yesus. Kadang-kadang, mereka terlalu berlebihan. Pernah Yesus ditolak di suatu desa. Seketika itu juga, anak-anak Zebedeus merasa sangat tersinggung. Mereka mengutip bacaan dari Kitab Suci dan bertanya kepada Yesus apakah mereka perlu menurunkan api dari langit, "seperti yang dilakukan Elia" (Lukas 9:54-56). Ini bisa membantu kita memahami mengapa Yesus memberikan tempat khusus dalam hati-Nya untuk anak-anak Zebedeus. Mereka adalah anggota "lingkaran terdalam-Nya" dan merupakan dua dari tiga murid yang paling dekat dengan-Nya. Kapan saja Tuhan tidak ingin sendirian atau tidak ingin berada dalam kumpulan orang banyak, Ia akan mengajak kedua kakak beradik ini dan seorang rasul lainnya menemani-Nya (Markus 5:37-43; 9:2-13; Matius 26:37-46). Juga ada pengertian di antara para rasul bahwa Yohanes adalah "murid yang dikasihi Yesus" (Yohanes 13:21-25).

Yohanes adalah satu-satunya murid yang tidak meninggalkan Yesus selama masa sengsara-Nya. Sama seperti ibunya, yang menolak untuk meninggalkan Anak Allah selagi Ia menanggung dosa dunia di atas kayu salib, Yohanes tinggal sedekat mungkin dengan Guru, Tuhan, dan Tuannya. Beberapa tahun kemudian, Yohanes menulis, "Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: "Ibu, inilah anakmu!" Kemudian kepada murid-Nya: "Inilah ibumu!" (Yohanes 19:26-27). Anak-anak Zebedeus ini terus melayani Tuhan yang telah bangkit, sepanjang hidup mereka. Yakobus adalah rasul pertama yang menjadi martir (Kisah Para Rasul 12:2). Yohanes yang terakhir. Dari antara semua rasul, dialah yang paling lama melayani Kristus. Yohanes menulis lima dari enam puluh kitab dalam Alkitab. Tema tentang kasih ada di mana-mana dalam tulisannya. Dalam Injil Yohanes, ia menulis tentang kasih Allah dan kasih Anak- Nya, Yesus Kristus.

Dalam 1, 2, 3 Yohanes, surat-suratnya kepada gereja awal, Yohanes juga menulis tentang kasih di antara saudara-saudara seiman. Dalam Wahyu, Yohanes menceritakan penglihatannya yang memberi kita gambaran tentang sejarah dunia ini. Semua tulisannya memantulkan sesuatu yang disebut Yesus sebagai hukum yang terutama (Matius 22:34-40). Tulisan-tulisannya membantu kita bahkan sampai pada hari ini dan menarik kita untuk mendekat pada Yesus, sebagaimana mereka menarik semua percaya, sampai pada hari Tuhan datang dengan seluruh kemegahan dan kemuliaan-Nya untuk membalas semua orang sesuai dengan perbuatannya (Wahyu 22:12).
BACA ARTIKEL INI JUGA YA ;)

0 comments on "Salome: Ibu yang Menginginkan Anak-Anaknya (Yakobus Dan Yohanes) Menjadi Orang-Orang Terdekat Yesus"

Posting Komentar

 

Si Oliv Punya Cerita... Copyright © 2009 Paper Girl is Designed by Ipietoon Blogger Template Sponsored by web hosting